JIPI
Skip to main content Skip to main navigation menu Skip to site footer

Cara Tanam dan Pemupukan Tanaman Kacang Hijau di Lahan Kering Iklim Kering Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur

  • Sri Ayu Dwi Lestari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, JL. Raya Kendalpayak KM 8 Kotak Pos 66, Malang 65101 http://orcid.org/0000-0002-8470-1335
  • Sutrisno Sutrisno Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, JL. Raya Kendalpayak KM 8 Kotak Pos 66, Malang 65101
  • Henny Kuntyastuti Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, JL. Raya Kendalpayak KM 8 Kotak Pos 66, Malang 65101

Abstract

The intercropping method is one way to maximize plants and soil's utilization in a dry land. This study aimed to determine the cultivation (cropping methods and fertilization) that could increase mungbean grain yield in dry land in the dry climate of East Sumba, East Nusa Tenggara Province. The experiment was conducted at dry land in a dry climate in Laipori Village, Pandawai District, East Sumba Regency in 2017. The experiment was laid out in a split-plot design with four replications. The main plot was a cropping pattern, namely (1) intercropping mungbean with maize. Mungbean plant spacing was 30 cm ´ 20 cm, two plants per hole, and maize plant spacing was (50 cm ´ 50 cm) ´ 120 cm, one plant/hole and (2) mungbean monoculture with a plant spacing of 40 cm ´ 10 cm, two plants/hole. The subplot was dosage and type of fertilizer, namely (1) 150 kg Phonska/ha, (2) 5000 kg cow manure/ha, and (3) 75 kg Phonska + 2500 kg cow manure/ha. The mungbean variety used was Vima 1, and the maize variety was Bima. The results showed that intercropping mungbean with maize could increase the yield of mungbean seeds yield by 0,28 t/ha (51,85%) and increase the mungbean biomass by 0,31 t/ha (22,30%) compared to the monoculture system. Different types and dosages of Phonska inorganic fertilizer and cow manure did not cause differences in the mungbean yield.

 

Downloads

Download data is not yet available.

References

Heryani N, Rejekiningrum P. 2019. Pengembangan pertanian lahan kering iklim kering melalui implementasi panca kelola lahan. Jurnal Sumberdaya Lahan. 13(2): 6371.

Indiati SW. 2014. Pengaruh insektisida nabati terhadap hama thrips dan hasil kacang hijau. Jurnal Pertanian Tanaman Pangan. 31(3): 152157.

Indrawan RR, Suryanto A, Soelistyono R. 2017. Kajian iklim mikro terhadap berbagai sistem tanam dan populasi tanaman jagung manis (Zea mays saccharata Sturt.). Jurnal Produksi Pertanian. 5(1): 9299.

Kadir A. 2011. Respon genotipe padi mutan hasil radiasi sinar gamma terhadap cekaman kekeringan. Jurnal Agrivigor. 10(3): 235246.

Kuntyastuti H, Lestari SAD. 2016. Pengaruh interaksi antara dosis pupuk dan populasi tanaman terhadap pertumbuhan dan hasil kacang hijau pada lahan kering beriklim kering. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 35(3): 239250.

Lestari SAD, Kuntyastuti H. 2016. Pengaruh pupuk kandang dan pupuk anorganik terhadap berbagai varietas kacang hijau di tanah masam. Buletin Palawija. 14(2): 5562.

Lestari SAD, Sutrisno, Kuntyastuti H. 2018. Pengaruh pupuk terhadap pertanaman kacang hijau dan residunya pada tanaman kacang tunggak. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia 23(1): 2128. https://doi.org/10.18343/jipi.23.1.21

Lestari D, Turmudi E, Suryati D. 2019. Efisiensi pemanfaatan lahan pada sistem tumpang sari dengan berbagai jarak tanam jagung dan varietas kacang hijau. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia 21(2): 8290. https://doi.org.10.31186/jipi/21.2.82-90

Lingga GK, Purwanti S, Toekidjo. 2015. Hasil dan kualitas benih kacang hijau (Vigna radiata (L.) Wilczek) tumpang sari barisan dengan jagung manis (Zea mays Saccharata). Jurnal Vegetalika. 4(2): 3947.

Manan AA, Machfudz WDP. 2015. Pengaruh volume air dan pola vertikultur terhadap pertumbuhan dan hasil sawi hijau (Brassica juncea L.). Journal of Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. 12(1): 3343.

Mulyani A, Nursyamsi D, Las I. 2014. Percepatan pengembangan pertanian lahan kering iklim kering di Nusa Tenggara. Pengembangan Inovasi Pertanian. 7(4): 187198.

Purnama JM, Tohari, Kastono D. 2013. Kajian teknologi parit berbahan organik pada produktivitas tumpang sari jagung (Zea mays L.) dengan kacang hijau (Vigna radiata [L.] Wilczek) di lahan kering. Vegetalika. 2(2): 4049.

Radjit BS, Prasetiaswati N. 2012. Prospek kacang hijau pada musim kemarau di Jawa Tengah. Buletin Palawija. 24: 5768.

Rahayu SP, Srimayanti TS. 2017. Perbaikan teknologi budi daya kacang hijau dan analisis usaha tani di Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia 3(2): 183188. https:// doi.org/10.13057/ psnmbi/m030203

Sabaruddin L, Hasid R, Muhidin, Anas AA. 2011. Pertumbuhan, produksi, dan efisiensi pemanfaatan lahan dalam sistem tumpang sari jagung dan kacang hijau dengan interval penyiraman berbeda. Jurnal Agronomi Indonesia. 39(3): 153159.

Trustinah, Radjit BS, Prasetiaswati N, Harnowo D. 2014. Adopsi varietas unggul kacang hijau di sentra produksi. Iptek Tanaman Pangan. 9(1): 2438.

Yuliani N, Sumarni T, Sebayang HT. 2017. Pengaruh tanaman sela pada pertumbuhan dan hasil tanaman jagung (Zea mays L.) dengan tiga taraf dosis nitrogen. Jurnal Produksi Tanaman. 5(12): 19791987.

Yuwariah Y. 2011. Peran Tanam Sela dan Tumpang sari Bersisipan Berbasis Padi Gogo Toleran Naungan. Bandung (ID): Giratuna.

Published
2021-07-14
How to Cite
Lestari, S. A. D., Sutrisno, S., & Kuntyastuti, H. (2021). Cara Tanam dan Pemupukan Tanaman Kacang Hijau di Lahan Kering Iklim Kering Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia, 26(3), 406-412. https://doi.org/10.18343/jipi.26.3.406